Foto Biru
Siang itu seperti biasanya aku memungut sampah di sebuah perumahan elite yang dihuni oleh para pejabat tinggi. Tidak mudah bagiku untuk masuk ke daerah ini. Aku harus petak umpet dengan para sekuriti yang menyebalkan itu. Saat sedang mengais sampah, mataku tertuju pada sebuah amplop cokelat yang biasanya sering dipakai untuk membungkus uang.
“Mungkinkah itu?”, pikirku. Aku berpikir itu adalah bungkusan uang yang tidak sengaja terbuang. Tapi rasanya tidak mungkin. Aku menjadi semakin penasaran. Tidak cukup tebal, tapi kalau isinya uang ratusan ribu, pasti sudah cukup banyak jumlahnya. “Kaya, aku bisa kaya dadakan”, pikirku. Tetapi belum sempat kulihat isinya, tiba-tiba beberapa orang berlari ke arahku.
“Hei, letakkan itu”, salah seorang dari mereka meneriakiku. Pakaiannya mirip dengan sekuriti di komplek itu.
Tanpa pikir panjang lagi. Kukantongi amplop itu dan berlari secepatnya. Tak perlu diragukan lagi kemampuanku untuk hal semacam ini. Kalau ada perlombaan lari dari sekuriti, tentunya akulah yang akan menjadi pemenangnya. Aku sudah terlatih selama belasan tahun. Jalanan telah mengubahku menjadi seorang pelari yang tercepat dan tergesit. Kupanjat pohon dekat tembok yang membatasi perumahan itu dengan dunia luar. Seperti seekor kera, tangan dan kakiku seperti sudah otomatis meraih batang-batang yang tumbuh dipohon itu. Secepat kilat aku sudah berada di balik tembok. Aku segera melangkahkan kaki menuju rumah yang letaknya cukup jauh dari perumahan itu.
Aku sangat penasaran dengan isi bungkusan itu. Sesampainya di rumah, segera kututup semua pintu dan jendela. Perlahan kubuka amplop itu. Jantungku berdegub keras.
“Astaga??”, Mataku terbelalak melihat isi bungkusan itu. Bukan uang, tetapi ini sunguh mengejutkanku. Darahku terasa naik sampai ubun-ubun. Ternyata isi bungkusan itu adalah setumpuk foto mesum. “Tunggu dulu, sepertinya aku mengenal wajah si pria yang ada di foto mesum itu. Ya, aku mengenalnya. Wajah itu seperti wajah yang juga terpampang di poster-poster di sepanjang dinding di daerah ini. Tapi siapa si wanita yang bersamanya. Aku belum pernah melihatnya. Tapi dia sungguh muda dan seksi. Hanya memandang fotonya saja sudah membangkitkan naluri laki-lakiku. Yang pasti ini bukan istrinya. Tapi siapa dia?”, Aku hamper tidak percaya dengan semua yang kulihat ini. “Hmm…pasti dia perek bintang lima”, gumamku.
Kuletakkan foto itu di atas meja. Tapi pandangannku tidak pernah lepas dari foto itu. Kuhela nafas panjang. Pikiranku mulai agak sedikit tenang. “Apa yang harus aku lakukan dengan foto-foto ini. Apa sebaiknya aku harus mengembalikkannnya ke tempat semula. Dan menganggap semua ini tidak pernah terjadi. Tapi rasanya sayang kalau harus mengembalikan foto-foto bagus ini. Ataukah aku simpan saja. Siapa tau foto ini nantinya berguna. Setidaknya aku bisa berfantasi sebelum minta jatah dari biniku”, Aku mulai membayangkan lagi tubuh wanita seksi di foto itu. Membayangkan seandainya biniku memiliki tubuh seseksi itu.
“Tok..tok…tok, Mas, buka pintunya?”, terdengar suara biniku.
Buru-buru kumasukkan semua foto itu kedalam tempatnya lagi dan kuselipkan di balik bajuku. “Sebentar”, jawabku agak gugup. Dan bergegas kubuka pintunya.
“Ada ap sih mas, kok pakai ditutup segala pintunya. Jangan-jangan kamu bawa perek kesini ya?”, tuduhnya padaku.
“Huss…jaga omonganmu. Mana berani aku bawa perek ke tempat ini. Lagian mana aku punya uang buat bayar perek-perek itu. Memang kamu pikir mereka mau beri layanan gratis kepadaku.”, aku membela diri.
Aku segera keluar dari gubuk reot itu tanpa menunggu tanggapan darinya. Aku pergi ketepi sungai tak jauh dari rumahku.. Tempat favoritku melepas lelah. Tetapi memang sedikit kotor. Sampah-sampah plastik tampak berlomba di dalam arus sungai diantara sampah-sampah yang lain. Airnya pun seperti kopi kental yang ditambah sedikit krim.
Kukeluarkan lagi foto itu. “Apa yang akan kulakukan dengan foto-foto ini?“. Kusandarkan tubuhku di dinding. Tiba-tiba terbesit dalam keinginanku untuk meminta tebusan. “Aku bisa dapat uang banyak. Ya, itu ide yang bagus. Aku bisa keluar dari kemiskinan ini. Aku bisa pakai uang itu buat beli rumah di kampung dan sisanya untuk modal usaha. Aku bisa mulai hidup normal seperti yang lainnya. Jalan-jalan, nonton tv, dan kesenangan lain yang belum pernah aku rasakan selama ini. Aku bisa menikmati barang-barang yang ditawarkan di koran-koran itu. Ya, aku harus melaksanakan ide itu”, aku semakin yakin dengan ideku itu. “Tapi bagaimana caranya aku menghubungi orang itu? Handphone aku tidak punya. Datang langsung ke rumahnya? bunuh diri namanya”, Aku terus berpikir bagaimana cara menghubunginya. Tentu pengawalnya tidak akan membiarkanku menemui bosnya. Atau aku berikan saja foto-foto ini pada lawan politiknya. Tapi tentu sama susahnya meyakinkan mereka bahwa aku benar-benar punya barang bagus untuk mereka. Aku terus berpikir. Tak terasa matahari mulai sedikit demi sedikit menghilang di ufuk barat. Aku bangkit dan melangkahkan kakiku kerumah. Aku tidak ingat kalau hari ini aku tidak mendapatkan apa-apa untuk dimakan.
Sampai dirumah, Aku duduk di dekat meja tempat biasanya istriku meletakkan makanan. Kuambil cangkir besar berisi kopi tubruk kesukaanku. Ini memang sudah menjadi kebiasaanku. Kopi ini kudapatkan dari tempat pembuangan sampah di dekat pasar. Aku tak peduli dengan asal kopi ini. Yang penting aku bisa merasakan sedikit kenikmatan yang dirasakan oleh orang-orang kantoran itu.
“Makan dulu mas!”, kata istriku mengejutkanku.
“Darimana kamu dapat semua ini? Bukankah aku belum kasih uang? ”, tanyaku heran.
“Tadi siang aku dapat rejeki mas. Kamu tahu kan bu Surti yang tinggal di kompleks perumahan deket pasar? Dia memberiku pekerjaan untuk mencuci dan menggosok pakaiannya. Aku mulai kerja hari ini, Lumayan mas buat kita makan. Enaknya lagi dia mengajiku setiap hari, jadi tidak perlu ngutang dulu untuk menutupi kebutuhan kita”,jawabnya.
“Istriku ini memang tidak secantik dan seseksi perek yang ada di foto itu, tetapi dia merupakan istri yang terbaik. Beruntung aku dapat mempersuntingnya. Namun sayang, sampai hari ini kami belum dikaruniai seorang anak. Mungkin tuhan tahu kalau kami memang belum layak untuk merawat seorang anak”, kataku dalam hati.
Malam itu sebelum aku memejamkan mata, aku masih memikirkan cara untuk menghubungi pejabat itu. Setelah cukup lama berpikir, akhirnya aku menemukan cara untuk menghubunginya. Kutulis semua skenario yang akan kupakai besok pagi di dalam otakku. Setelah itu mataku terpejam.
Pagi-pagi sekali aku mengambil peralatan kerjaku dan bergegas kembali ke perumahan itu. Aku meninggalkan sebuah pesan tertulis di depan rumahnya berharap seseorang akan menemukannya. Meskipun aku ini tidak berpendidikan tetapi setidaknya aku bisa membaca dan menulis. Kemampuan ini kuperoleh dari sekolah rakyat yang diadakan beberapa sukarelawan beberapa tahun silam. Ternyata usaha kerasku belajar membaca dan menulis ada gunanya juga.
Aku meninggalkan pesan yang isinya aku menunggunya di pinggir sungai, tempat favoritku melepas lelah. Aku meminta 500 juta sebagai uang tebusan. Tentu uang segitu tidak akan jadi masalah baginya. Ini akan menjadi tempat bersejarah bagiku. Disini aku akan merubah hidupku. Keluar dari lembah kemiskinan ini dan hidup enak.
Aku mulai putus asa. Sudah hampir sepuluh jam aku menunggu di tempat ini. “Sepertinya mereka tidak akan datang”, pikirku. Saat hendak pulang, tiba-tiba muncul beberapa sosok yang sepertinya aku mengenali mereka dari pakaian yang mereka kenakan. Setelah lebih dekat, aku pastikan bahwa orang-orang itu adalah orang-orang yang mengejarku kemarin.
“Mana fotonya”, Katanya setengah berteriak kepadaku.
Aku agak sedikit gugup. Jumlah dan ukuran badan mereka membuaku merinding. “Ada uang ada barang”, Jawabku berlagak berani.
Tanpa basa-basi lagi seseorang dari mereka melemparkan sebuah tas kearahku. Tas itu jatuh tepat di depanku. “Inikah babak baru dalam hidupku?”, pikirku. Perlahan kubuka tas itu. Jantungku berdetak cukup kencang.
“Hah..”, aku begitu terkejut melihat isi tas itu. Darahku kembali naik ke ubun-ubun sama seperti waktu aku buka isi bungkusan itu. Bukan karena uang yang selama ini kubayangkan. Ini diluar dugaanku. Aku ingin sekali berteriak, tetapi tak ada sedikitpun suara yang keluar dari mulutku. Bagaimana tidak terkejut, dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat kepala istriku ada di dalam tas itu. Tas yang seharusnya berisi uang 500 juta yang akan mengubah hidup kami. Aku benar-benar tidak bisa percaya dengan apa yang kulihat.
“Cepat serahkan foto itu atau nasibmu akan sama seperti istrimu itu. Sebenarnya dia cukup cantik dan punya permainan yang hot di ranjang. Sayang nasibnya harus berakhir karena kebodohanmu.”, kata salah satu dari mereka sambil menodongkan sebuah pistol ke kepalaku.
“Apa yang telah kalian perbuat? Istriku tidak tahu apa-apa. Kenapa kalian tega melakukan ini semua. Kalian benar-benar binatang”, air mataku tidak terbendung lagi melihat kepala istriku diletakkan di dalam tas tersebut. Mereka memperlakukannya seperti binatang. Setelah mereka puas menikmati tubuhnya, mereka memotong-motongnya seperti ayam. Mereka benar-benar bukan manusia. Kuambil bungkusan dibalik bajuku. Kulemparkan itu pada mereka. Aku tidak peduli lagi dengan foto dan uang tebusan itu. Aku ingin semua ini segera berakhir.
“Bagus”, kata mereka. Sebuah tinju mendarat di wajahku. Belum sempat membalas, bebuah sepakan berhasil mengenai ulu hatikku. Setelah itu aku tidak sadarkan diri.
***
Perlahan aku mulai merasakan kembali tubuhku. Kurasakan sakit disekujur tubuhku. Kubuka mataku pelan-pelan. Aku masih merasa sedikit pusing. Sedikit demi sedikit ingatanku mulai tersusun kembali.
“Mirna”, aku teringat pada istriku.
“Diam, atau kujahit mulutmu”, teriak seseorang yang tak jauh dari tempatku tergeletak. Pandanganku masih sedikit kabur. Tapi sepertinya aku mengenali pakaian yang mereka kenakan. Mereka bukan orang-orang biadab itu. Kuusap mataku agar pandangaku lebih jelas. Kulihat sekeliling dengan cermat. “Penjara?”. Sekarang aku benar-benar bingung dengan semua ini. Pertama, aku menemukan foto mesum pejabat tinggi dengan seorang perek seksi. Kedua, aku melihat kepala istriku di dalam sebuah tas. Ketiga, sekarang aku tiba-tiba berada di sebuah sel. “Apa yang sebenarnya terjadi?”.
Akhirnya aku tahu kenapa aku berada di tempat hina ini. Ternyata aku dituduh telah memutilasi istriku. “Apa ini tidak salah? Bukan aku yang melakukannya, Orang-orang bidadab itulah yang telah membantai istriku dengan kejam. Kenapa aku yang harus menanggunggnya?” Semua ini menjadikannku semakin bingung. “Orang biadab itu pasti sudah merekayasa semua ini”.
Aku kembali meneteskan air mata. Aku tidak menyangka akan berakhir seperti ini. Seharusnya saat ini aku sedang menikmati kopi bikinan istriku di rumahku yang baru. Sambil nonton tv di ruang keluarga.
“Tidak..tidak mungkin”, aku berharap aku hanya mimpi dan segera terbangun dari mimpi terburuk ini. Tapi mau tidak mau aku harus menerima kalau ini bukanlah mimpi. Ini adalah kenyataan.
“Mereka harus membayar semua ini. Kalau hukum di negeri ini tidak mampu menghukum mereka, biarlah masyarakat yang akan menghukum mereka. Hukum boleh di bungkam, tapi rakyat tidak akan bisa dibungkam”.
Aku tidak sebodoh yang mereka kira. Aku masih menyimpan satu foto mesum itu. aku berhasil mengirimkan foto itu pada seorang wartawan dengan bantuan seorang teman yang kukenal di penjara ini.
Esok paginya. Berita tentang perbuatan mesum itu menjadi headline hampir di semua surat kabar. Kudengar juga dari kawanku itu kalau di dunia maya juga terbentuk kekeuatan besar untuk menurunkan pejabat itu dari kursinya. Aku tidak paham dengan hal itu, tapi aku yakin hal itu akan sangat hebat.
Tiba-tiba sebuah pisau menembus perutku. Setelah itu aku tidak tau apa yang terjadi. Spertinya ini adalah akhir dari kisah hidupku.
***
Keesokan harinya, di halaman depan sebuah surat kabar, tertulis berita, “Seorang narapidana kasus mutilasi, bunuh diri. Diduga stress karena kemiskinan dan kesengsaraan yang ditanggungnya selama ini”.
Filed under: Fiction | Leave a Comment
